TRADISI wiwitan atau ucap syukur para petani atas hasil panen padinya di Yogyakarta belakangan ini nyaris punah. Di sudut-sudut dusun yang ada di Yogyakarta tradisi wiwitan sudah jarang sekali bisa kita temui. Berbeda pada sekitar tahun 70-80 an, tradisi itu masih bisa ditemui di dusun saat petani akan memulai hasil panen padinya.
Prosesi wiwitan biasanya diawali dengan arak-arakan sejumah bregodo. Berbagai ugo rampe wiwitan juga dibawa sejumlah wanita dibarisan depan disusul rombongan pembawa gunungan sayur dan untaian gabah.
Ada juga warga dibarisan itu yang membawa gunungan berisi padi kering dan gunungan buah-buahan dan sayur. Mereka biasanya juga membawa ingkung ayam dan sego gurih.
Beberapa warga juga membawa ani-ani atau alat seperti pisau kecil sebagai alat untuk memotong padi sebagai penanda panen akan dimulai.
Sesampainya diarea sawah yang akan dipanen, ugo rampe wiwitan diletakan untuk di doakan. Dipimpin sesepuh dusun setempat, ugo rampe itu didoakan diantara hamparan lahan padi. Upacara wiwitan ada juga yang dilakukan sendiri, atau hanya dilakukan oleh lingkungan keluarga dekat.
Wiwitan bisa dimaknai sebagai sebuah tradisi yang menuntun manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.
Apakah wiwitan termasuk tradisi ritual yang dilarang agama?. Menurut saya, tergantung sudut pandang masing-masing. Kalau pendapat saya, wiwitan bukan suatu hal yang dilarang agama. Karena, tujuan mereka hanya untuk mengucapkan rasa syukur atas hasil panen padinya kepada Tuhan Sang Pencipta Alam.
Semoga tradisi wiwitan di Yogyakarta bukan tinggal kenangan saja. Tradisi budaya seperti itu harus dilestarikan sampai kapanpun. Mari kita bersama-sama untuk melestarikan salah satu budaya yang ada di Yogyakarta ini.
Oleh: Witanto B Tarbit Pemipim Umum Inilah Jogja sekaligus pemerhati sosial dan budaya
(zia)
Discussion about this post