TRADISI jamasan pusaka merupakan salah satu rutinitas yang identik dilakukan pada bulan Suro.
Di sisi lain, jamasan pusaka dapat pula dilakukan saat memasuki bulan suci Ramadan maupun menjelang hari jadi daerah.
Layaknya Pemerintah Kabupaten Sleman yang melakukan jamasan pusaka di Barat Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, DIY, belum lama ini.
“Idealnya 1 tahun sekali bertepatan bisa pada bulan Suro atau pada peristiwa rutin tetap mungkin, semacam ini kita menjelang hari jadi,” tutur Singgih selaku pelaksana jamasan pusaka.
Singgih juga menyebutkan, pusaka yang dibersihkan ini ialah tombak pusaka Kabupaten Sleman pemberian dari Sinuwun Ngarso Dalem Hamengku Buwana X yang diberi nama Tombak Kyai Turun Sih. Filosofi dari pusaka ini adalah menumbuhkan dan memancarkan rasa kepedulian bagi para pejabat pemerintahan maupun seluruh masyarakat di Kabupaten Sleman.
Tidak hanya tombak, beberapa keris turut dilakukan jamasan. Jamasan ini dimaksudkan guna mencegah karat selama penyimpanan dalam satu tahun terakhir akibat kelembaban.
Sebab, karat dianggap dapat mempengaruhi pancaran energi dan doa yang terekam dalam bilah pusaka. Namun, pada dasarnya tujuan penjamasan pusaka ini adalah pembersihan kotoran, baik secara fisik maupun nonfisik pada Pusaka Kanjeng Kyai Turun Sih.
“Kotoran yang tidak tampak kalo kita gambarkan mungkin semacam aura-aura negatif yang selama setahun ini mewarnai kehidupan kita,” kata pria yang tinggal di Berbah, Sleman ini.
Singgih menuturkan ada tiga fungsi dilakukan pembersihan ini, yaitu yang pertama adalah mencegah karat dengan menutup pori-pori dari karat. Kemudian, yang kedua menghitamkkan bilah. Dan yang ketiga memutihkan pamor bilah yang bergaris-garis.
“Dengan gabungan tiga itu, nanti pusaka akan kelihatan lebih cemerlang, indah, dan bersih,” imbuhnya.
Adapun pembersihan pusaka ini dilakukan bertahap yang dimulai dengan proses mutih, marangi, dan setelahnya dibasuh dengan air bunga setaman.
“Prosesnya menjamasi sama mewarangi. Menjamasi itu prosesnya memutihkan bilah dari minyak yang menempel. Kemudian marangi adalah proses memberikan larutan anti karat,” jelasnya.
Dalam hal ini, larutan air jeruk nipis lokal dan arsen digunakan untuk membersihkan pori-pori bilah dari karat.
Singgih berharap, dengan melakukan jamasan ini aura serta pikiran negatif dapat tersucikan.
Sehingga, lahirlah kebersihan hati, pikiran, rasa toleran, dan saling pengertian antar masyarakat dalam membangun serta memajukan Kabupaten Sleman. (sal/mdc)
Discussion about this post