PADA 76 tahun lalu, seluruh penjuru negeri bergembira ketika Bung Karno dan Bung Hatta membacakan teks Proklamasi. Lepas sudah belenggu penjajahan yang telah mengikat nusantara selama lebih dari 3 abad.
Sejarawan mencatat bahwa sesungguhnya kemerdekaan dapat dicapai relatif lebih cepat setelah seluruh elemen bangsa sadar bahwa kepentingan pribadi dan golongan harus dikesampingkan.
“Persatuan dan kesatuanlah yang harus dikedepankan,” ungkap H Dede Haris Sumarno, SE, MM, alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang aktif di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY ini.
Bagi Dede, momen itu terjadi pada 28 Oktober 1928 yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. “Selama lebih dari tiga abad seluruh elemen yang ada di Nusantara sebenarnya terus berjuang,” kata Dede, Selasa (17/8/2021).
Kata Dede, tidak sedikit sumber daya yang telah dicurahkan untuk perjuangan tersebut. Ribuan nyawa melayang dalam berbagai palagan. “Namun kemerdekaan tak kunjung datang. Kenapa? Jawabannya adalah karena perjuangan yang dilakukan masih bersifat individu dan golongan,” kata Dede, mantan Wakil Direktur Dana Pensiun Muhammadiyah jebolan FE dan MM UMY.
Setelah kesadaran kolektif tumbuh dan dideklarasikan dalam momentum Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, hanya perlu waktu 17 tahun untuk memproklamirkan kemerdekaan.
Pun demikian dengan kondisi pandemi yang telah terjadi selama lebih dari 17 bulan ini. “Selama ini, perjuangan untuk lepas dari belenggu pandemi Covid-19 terkesan masih bersifat individual, parsial, dan ego sektoral,” kata Dede.
Bahkan, seringkali terjadi pertentangan di antara elemen masyarakat yang mengingatkan kita kepada strategi devide et impera yang dilakukan oleh penjajah untuk melemahkan kekuatan elemen nusantara saat itu.
Elemen-elemen Nusantara secara terstruktur digiring untuk bertikai demi mempertahankan ego masing-masing. “Penjajah pun tersenyum dan terus melenggang tanpa harus berkeringat,” tandasnya.
Momentum 17 Agustus 2021 ini, Dede berharap untuk dijadikan sebagai tonggak perjuangan kita bersama agar lepas dari belenggu pandemi Covid-19.
“Saatnya kita satukan niat, bulatkan tekad, kesampingkan kepentingan individu dan golongan serta kedepankan kepentingan bangsa dan negara,” papar Dede, tokoh Majalengka yang mendapatkan kepercayaan dari Presiden RI Joko Widodo sebagai anggota Badan Wakaf Indonesia Masa Jabatan 2021-2024. (Fan)
Discussion about this post