UNTUK meningkatkan kualitas pendidikan di Kulonprogo, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta membangun kampus 6 dan Muhammadiyah Business Center (MBC) di Jalan KHA Dahlan atau Jalan Purworejo-Wates km 4 Dalaman, Triharjo, Wates, Kulonprogo.
Pembangunan itu sebagai bukti nyata Muhammadiyah yang terpanggil dalam pembangunan kualitas bangsa dan memberikan sumbangsih bagi pendidikan dan perekonomian di Kulonprogo.
Gedung kampus 6 di atas lahan seluas 3.000 meter persegi yang digunakan untuk perkuliahan, perpustakaan, Muhammadiyah Business Center, masjid, gedung dakwah dan pusat bisnis lainnya diresmikan secara virtual oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir, MSi, Kamis (25/2/2021), yang dihadiri Ketua PDM Kulonprogo Dr HM Jumarin, MPd.
Meskipun kampus 6 UAD ini tidak berada dalam satu lokasi yang sama dengan kampus utama, Haedar Nashir berharap harus tetap terselenggara dalam satu sistem yang menyatu.
Dikatakan Haedar, biarpun terpencar dan berbagai unit tumbuh di dalamnya, tapi bukan menjadi bagian-bagian yang terkelupas dan terpisah. “Apalagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang di luar kendali universitas,” kata Haedar Nashir.
Haedar juga berharap, dalam prinsip unity atau persyarikatan, UAD bisa mengembangkan dunia pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa. “Ke depan, UAD bisa menghasilkan kader persyarikatan, umat dan bangsa yang berkemajuan,” papar Haedar Nashir.
Selain itu, kader dan mahasiswa UAD ketika disebarkan di tengah masyarakat bisa memahami Islam secara utuh, luas dan membawa misi rahmatan lil ‘alamiin.
Haedar berharap pula agar mahasiswa diajarkan nilai-nilai Islam sesuai dengan manhaj tarjih yang wasathiyah, Islam yang tengahan, Islam yang membawa kedamaian, kebersamaan, kebersatuan, Islam yang selalu menyambung ta’aruf dan ta’awun.
Bagi Haedar, melalui pemahaman Islam berkemajuan yang dipedomani Muhammadiyah akan dapat membangun nilai-nilai luhur agama. “Dan mampu memajukan keadaban publik di tengah masyarakat yang semakin pragmatis,” papar Haedar.
Pragmatismu itu, kata Haedar, lahir dari kedangkalan pembahasan keislaman dalam media sosial. “Karenanya saya meminta agar terus menggelorakan Islam berkemajuan,” tandas Haedar.
Di era media sosial, menurut Haedar, boleh jadi membuat setiap orang terbiasa untuk memamah hoax, perseteruan, buzzer, kebencian dan prasangka buruk antarsesama.
Seperti disampaikan Haedar, Muhammadiyah harus hadir dengan menyuarakan nilai-nilai luhur yang utama. “Sekaligus juga memberi solusi,” tandasnya.
Kata Haedar, Muhammadiyah menghadirkan Islam yang menjadi pemecah masalah. “Bukan penambah atau pemberi masalah, apalagi Islam yang mempolitisasi masalah,” kata Haedar Nashir, yang berharap kampus 6 UAD memberi kemaslahatan bagi masyarakat Kulonprogo.
Rektor UAD, Dr Muchlas, MT, mengatakan, founding fathers UAD memiliki cita-cita kampus UAD secara fisik adalah kampus urban university atau kampus perkotaan. “Karena di kota akses publik lebih mudah sehingga mendukung kegiatan akademik,” kata Muchlas.
Ke depan, setelah bangun kampus 6 di Kulonprogo, pihaknya berkeinginan membangun kampus di Sleman dan Gunung Kidul. “Sehingga menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas dan membanggakan bagi Muhammadiyah,” katanya.
Menyinggung soal kampus 6 UAD, diharapkan menjadi landmark baru. “Khususnya di kabupaten Kulonprogo dan Yogyakarta sebagai kota pendidikan,” papar Muchlas, yang menambahkan atas fasilitasi PDM Kulonprogo, UAD telah membeli tanah seluas 5.663 meter persegi di sekitar Kampus 6 UAD.
Bupati Kulonprogo Drs H Sutedjo melalui Ir Bambang Tri Budi Harsono, MM, Asisten Perekonomian dan Sumber Daya Alam Pemkab Kulonprogo dan Ketua Dewan Pengawas Perusahaan Umum Daerah “Aneka Usaha” Kulonprogo ucapkan selamat atas diresmikannya Kampus 6 UAD dan MBC.
“Semoga UAD semakin sukses dan jaya dalam mengembangkan kualitas pendidikan anak bangsa serta dipercaya masyarakat luas dalam hal pendidikan,” kata Bambang Tri Budi Harsono.
Kehadiran UAD itu menambah Perguruan Tinggi yang ada di Kulonprogo. “Diharapkan memberikan dampak positif bagi masyarakat dan pemerintah,” katanya lagi.
Bupati Kulonprogo merasa bahagia dan bangga karena UAD bersedia membangun kampus di Kabupaten Kulonprogo. Hal itu akan memberi motivasi bagi orang tua dan generasi muda untuk melanjutkan pendidikan.
Ketua pembangunan, Drs M Safar Nasir, MSi, menjelaskan, kampus 6 UAD lantai satu untuk retail atau toko MBC yang dikelola PDM Kulonprogo dan PWM DIY.
Menurut Safar, pembangunan gedung dengan biaya Rp 4,4 miliar ini bisa diselesaikan dalam waktu 14 bulan dari yang semula ditargetkan 6 bulan. “Lamanya pembangunan karena adanya pandemi Covid-19,” kata Safar Nasir, yang menerangkan luas gedung itu 1.200 meter persegi.
Kepala Bidang Kerumahtanggaan, Peralatan dan Keamanan UAD, Ahmad Ahid Mudayana, menambahkan, kampus 6 UAD ini bisa menambah motivasi mahasiswa FAI untuk meningkatkan prestasi akademik.
Lokasi ini merupakan bagian kelembagaan dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Wates, yang tidak terlepas dari Institut Agama Islam Muhammadiyah Surakarta yang berdiri di Wates pada 1968.
Dalam perjalanannya mengalami beberapa kali perubahan status. Hingga pada 2014 bergabung menjadi bagian dari Fakultas Tarbiyah dan Dirasat Islamiyah UAD yang sekarang ini bernama FAI. (Fan)
Discussion about this post